SIAPA CALON WALIKOTA SEMARANG PASCA MBAK ITA TIDAK MAJU?

By - February 29, 2024 | Post View : 944 views
jokowi

Mi-NEWS.com | DEMAK – Setelah beredar berita bahwa Walikota Semarang, Dr. Ir. Hj. Hevearita Gunaryati Rahayu, M.Sos. atau biasa disapa Mbak Ita menyatakan tidak akan mencalonkan diri dalam pemilihan kepala daerah (Pemilukada) Kota Semarang pada bulan November tahun 2024, bursa kandidat calon Walikota Semarang semakin ramai, karena semua orang yang ingin mencalonkan diri berangkat dari start yang sama atau merasa mempunyai peluang yang sama karena tidak ada yang berangkat dengan status sebagai incumbent.

Sejauh ini sudah beredar sejumlah nama kandidat calon Walikota Semarang seperti Iswar Aminuddin (Sekda kota Semarang), Yoyok Sukawi (politisi Partai Demokrat), Krisseptiana, SH, MM atau Tia Hendi (PDI Perjuangan), Soemarmo HS (mantan Walikota Semarang), Ade Bhakti (Sekretaris Dinas Pemadam kebakaran kota Semarang) dan lain-lain.

Akhir-akhir ini juga muncul nama-nama baru yang patut diperhitungkan, yaitu H M Mahsun SIP (Ketua DPC PKB Kota Semarang), Muhammad Mahbub Zaki (Wakil Ketua PCNU Kota Semarang) dan M Ngainirrichadl (Anggota DPRD Jawa Tengah dari PPP).

Nama Muhammad Mahsun sudah bukan asing bagi masyarakat Kota Semarang. Pengalamannya dalam bidang politik dan sosial kemasyarakatan sudah teruji. Dia pernah menjadi anggota DPRD Kota Semarang periode 1999-2004. Dia pernah aktif sebagai ketua Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Masjid Agung Baiturrohman (LAZISBA) Simpang Lima Semarang. Mahsun juga pernah mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI pada pemilu 2019. Pada pemilu 2024 dia menjadi calon anggota DPRD Jawa Tengah dapil 1 yang mencakup Kota Semarang. Berdasar berbagai pengalaman tersebut maka politisi alumni FISIP Unwahas ini layak untuk diusung sebagai calon Walikota atau Wakil Walikota Semarang.

Sedangkan kalangan muda NU banyak yang mendorong nama Muhammad Mahbub Zaki atau yang biasa disebut Gus Bobi dengan alasan yang bersangkutan sudah populer di kalangan aktivis ormas karena dia sejak masih mahasiswa sudah malang melintang di dunia pergerakan, tidak hanya di level Kota Semarang dan Jawa Tengah tetapi juga nasional. Kiprahnya sebagai Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang juga sudah teruji dalam membina generasi muda NU terutama yang aktif di GP Ansor, Ikatan Pelajar NU maupun Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Gus Bobi yang sering mengisi pengajian ini juga dikenal sebagai sosok yang dekat dengan berbagai kalangan baik birokrat, aparat penegak hukum, pengusaha maupun kalangan pesantren. Oleh karena itu, sosok anak muda alumni FISIP Undip ini patut diperhitungkan untuk masuk bursa sebagai calon Walikota atau Wakil Walikota Semarang.

Adapun nama M Ngainirrichadl atau biasa dipanggil Richadl juga bukan nama asing bagi warga Kota Semarang karena pada pemilu 2014 dia menjadi anggota DPRD Jawa Tengah dari dapil 1 yang mencakup Kota Semarang, kabupaten Kendal, Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang. Pada pemilu 2019 dia maju sebagai anggota DPRD Jawa Tengah dari dapil Jateng IX mencakup Wonosobo, Temanggung dan Purworejo. Oleh karena itu politisi alumni UIN Walisongo ini juga layak untuk diajukan sebagai calon Walikota atau Wakil Walikota Semarang.

Kota Semarang sebagai kota metropolitan yang multikultural membutuhkan sosok pemimpin yang bisa merangkul semua komponen terutama dari kalangan nasionalis dan religius. Kepemimpinan kolaboratif yang memadukan unsur nasionalis dan religius masih relevan karena sesuai dengan semangat Pancasila. Kolaborasi berbagai elemen bangsa juga sangat dibutuhkan agar terjaga harmonisasi dalam pembangunan kota Semarang.

Selama ini muncul kesan di kalangan masyarakat bahwa untuk menjadi kepala daerah itu membutuhkan modal yang banyak. Seorang kandidat tidak cukup hanya bermodal popularitas, elektabilitas atau kredibiltas, tetapi juga butuh isi tas atau dalam bahasa lain butuh dana yang banyak. Padahal sebenarnya faktor isi tas atau dana itu bukan faktor utama melainkan faktor pendukung atau penunjang. Faktor utama adalah kerja mesin politik yang massif. Banyak uang tidak menjadi jaminan.

Banyak pengalaman pilkada dimenangkan oleh kandidat yang memiki uang pas-pasan tetapi karena sosoknya dikenal baik oleh masyarakat, strategi lapangannya bagus sehingga mendapat dukungan yang massif dari masyarakat, mesin politik bekerja optimal dan programnya diterima masyarakat, maka dapat memenangkan pemilukada. Sebaliknya banyak juga kandidat yang didukung dana banyak tetapi gagal dalam pemilukada karena mesin pendukungnya lemah dan strategi lapangannya tidak tepat. Jadi yang utama itu mesin politiknya jalan dan strategi lapangan tepat sedangkan uang penunjang. (Mi-NEWS/Ikcsan)

Posted in ,

Artikel Terkait

Kategori

Arsip Berita

Popular Post